Senin, 17 Januari 2011

LUKISAN MOYANGKU

Mentari masih tersipu malu, saat terdengar denyit pintu bambu
Rupanya moyangku dengan wajah sedikit sayu,
karena mimpi-mimpi indah tak mampu terayu
Siap bergegas kelabuhi waktu, petakan harap pada titik nadir hari
Kala itu belum lagi tanak sebulir padi yang menyendiri
Langkahmu gontai, namun ikhlas memapah jiwa tuamu
Permadani dari rumput dan kerikil, bertasbih atas namamu
Lumpur hitam bersekat-sekat pematang adalah kanvasmu
Tintamu adalah keringat-keringat yang tak pernah berhenti diperas waktu.......''Hingga karyamu ada padaku''

Sampai disini aku tertunduk malu, tak mampu lanjutkan ingatanku
Anak desa yang merantau ke kota, mencabik-cabik lukisan moyangnya

Yaa Rabb,....bukan inginku, Yaa Rabb,....ampuni aku
Sebulir padi mati ditanganku, seremah nasi kini kuratapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar